Daftar Blog Saya

Kamis, 15 Maret 2012

Pembelajaran Mengenai Kebersihan


Kebersihan penting, kiranya hampir semua orang mengenal istilah ini, istilah yang sering didengungkan bahkan ditulis di banyak tempat, baik secara sederhana hingga dalam bentuk grafika yang indah untuk menggugah kesadaran orang-orang. Namun ternyata dampak dari semua itu kiranya masih jauh dari harapan. Masih banyak kalangan yang tidak mengindahkan kebersihan dan tetap berprilaku mengotori, sehingga sering menggoyahkan orang-orang yang tadinya berkomitmen untuk mewujudkan kebersihan menjadi limbung, putus asa dan akhirnya jadi masa bodoh akan kebersihan.
Apakah memang tidak ada jalan lagi yang bisa ditempuh, padahal kalau dipikir-pikir sebenarnya masalah menjaga kebersihan bukanlah hal yang sulit dinalar. Mungkin masalahnya adalah justeru karena masyarakat kita terbiasa memandang ringan masalah kebersihan, lalu menjadi lengah dan mengabaikannya. Padahal sekecil apapun masalah jika dihadapi dengan pandangan menyepelekan, maka sikap demikian cenderung menjadi bumerang bagi yang bersangkutan, dia jadi bimbang tidak paham betul akan apa yang harus dilakukan terhadap hal yang disepelekannya, karena konsentrasinya, nalarnya sudah sebagian dijauhkan untuk mengelola hal itu.


Pada kenyataanya, kita masih bisa mendapatkan tempat-tempat yang terjaga apik kebersihanya. Salah satunya adalah negara Jepang. Dikatakan bahwa kota-kota dan tempat-tempat di Jepang terkenal bersih sekali, masyarakatnya begitu telaten dan cakap berprilaku bersih, meskipun hampir tidak banyak terdapat tulisan mengenai kebersihan, karena mayoritas masyarakatnya sudah sadar dan telah memiliki budaya bersih.
Apa yang mereka (Jepang) lakukan untuk urusan kebersihan? Tidak banyak dipasangnya tulisan atau slogan mengenai kebersihan bukan berarti Jepang cukup mengeluarkan jurus-jurus ringan, justeru Jepang telah melakukan jurus-jurus maut yang rinci, menjelimet dan komprehensif, dengan semangat dan filosofi kuat (mungkin setangguh semangat samurai mereka) untuk mewujudkan kebersihan dan menjadikan Jepang sabagai negara yang cantik dan menarik.
Kita perlu belajar mengenai cara Jepang mewujudkan kebersihan. Masalah kebersihan harus menjadi pembelajaran dalam pendidikan kita. Kita tidak bisa memandang kebersihan sebelah mata, dan menjadikannya cukup dikelola dengan membuatkan tulisan-tulisan atau slogan-slogan semata, di mana ini bukan tidak perlu, namun baru sebagian kecil usaha, belum sampai kepada subtansinya. Oleh karena itu, dengan pembelajaran mengenai kebersihan diharapkan dapat menciptakan proses kajian yang mendalam mengenai kebersihan yang pada gilirannya akan mendorong kepada pembentukan prilaku yang sesuai dan dibutuhkan bagi terwujudnya kebersihan.
Sekolah kita, SMA Negeri 1 Martapura selayaknya menjadikan kebersihan sebagai bahan pembelajaran juga. Untuk itu perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Pembentukan tim kebersihan, operasionalnya tim 8 K sekolah dapat lebih intensif berperan. Harus ada sekelompok orang/tenaga yang secara khusus mengkaji masalah kebersihan. Mereka merumuskan dan membuat langkah-langkah yang sistematis, strategis untuk mewujudkan kebersihan.
2. Para wali kelas sebagai sub sistem kebersihan setelah tim 8 K, perlu mengembangkan langkah-langkah mewujudkan kebersihan dalam wilayah kelas binaannya. Sikap, perhatian dan kepedulian wali kelas akan kebersihan harus bisa dilihat dan dirasakan oleh siswa-siswa kelasnya. Standar ruang kelas yang bersih harus dibuat dan dijabarkan, misalnya:
a. Langit-langit dan dinding ruangan harus bersih dari sarang laba-laba atau sejenisnya, bersih dari coretan-coretan atau juga dari kotoran lainnya seperti debu atau belepotan tanah.
b. Bila cat ruangan sudah kusam, maka harus dilakukan pengecatan kembali.
c. Lantai harus senantiasa bersih dari sampah, tidak berdebu dan mengkilat jika terbuat dari keramik/tehal/marmer. Demikian juga dengan pintu, jendela-jendela dan kusen-kusen dan kaca-kaca ruangan harus bebas dari kotoran, senantiasa dilap secara rutin.
d. Perabot kelas: kursi, meja, lemari dan locker baik untuk siswa maupun guru harus bebas dari debu, untuk itu senantiasa harus dilap rutin.
e. Perlengkapan kebersihan meliputi: broom (sesapu), penggebut debu (sula), lap, pel dorong, ember, serok sampah, bak sampah tersedia dalam jumlah yang cukup di kelas.
f. Semua perlengkapaan dan perabot kelas harus juga bersih dan tertata dengan rapi di tempatnya masing-masing.
g. Sebelum, sesaat dan setelah kegiatan pembelajaran ruang kelas harus tetap terjaga kebersihannya. Oleh sebab itu, jika didapati unsur yang mengotori kelas harus segera dibersihkan.
h. Kain tiran/korden dan taplak meja (guru) harus dicuci secara rutin.
i. Oknum siswa yang ketahuan berprilaku mengotori, membuang sampah sembarangan, membuang sampah dilaci meja atau keluar jendela dan sejenisnya harus mendapat sanksi yang tegas.
3. Para guru yang mengajar menjadikan unsur kebersihan sebagai bagian tak terpisahkan dengan materi pelajaran apapun yang diajarkannya. Sebelum memulai mengajar di suatu kelas atau tempat belajar, guru memindai lokasi belajar dan mengevaluasi kualitas kebersihannya. Jika didapati masih ada sampah, keadaan kotor atau semraut, sebaiknya pembelajaran jangan diberikan dulu, kerahkan siswa, tentunya dengan memberikan teladan dan turut bersama-sama siswa, melakukan aksi kebersihan dan penataan ruang atau tempat belajar terlebih dahulu. Bila ruangan sudah bersih dan tertata rapi, baru mulailah pembelajaran, InsyaAllah inspirasi brilian bagi suksesnya pembelajaran akan terbit.
4. Ruang-ruang atau tempat-tempat umum yang biasa dikunjungi siswa seperti: Laboratorium-laboratorium, Perpustakaan, Ruang multimedia, Ruang UKS, Kantin/Koperasi Sekolah, Ruang BP, Ruang Tata Usaha, Aula, Mushalla dsb, oleh pengelola setiap ruang atau tempat tersebut harus dijaga ketat kebersihannya, bikin aturan yang jelas/tegas bagi setiap pengunjung dalam pamanfaatan ruang/tempat tersebut yang salah satunya adalah mengenai kebersihan. Kenakan sanksi bagi pengunjung yang melanggar tata kebersihan. Ruang-ruang/tempat-tempat ini adalah sebagai pusat layanan untuk urasannya masing-masing, maka hadirkanlah tampilannya secara profesional dengan aspek kebersihan, kerapian sebagai bagian dari bentuk layanan bagi pengunjungnya.
5. Sekolah kita sudah memilki program Jum’at bersih. Sudah dirasakan, dampak program ini sangat positif bagi perwujudan kebersihan dan kerapian sekolah secara menyeluruh. Namun sayang, setelah bersusah payah memunguti sampah-sampah terutama yang berasal dari bungkus-bungkus makanan dan minuman, juga kertas-kerta, beberapa hari kemudian sampah-sampah serupa muncul kembali. Ini artinya warga sekolah kita sudah cakap melakukan aksi bersih-bersih tapi belum lulus untuk aspek tidak berprilaku mengotori, padahal tempat-tempat sampah sudah cukup tersedia, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini juga ditandai oleh masih banyak ditemukan yang membuang sampah di samping tempat sampah atau di atas tutup bak sampah. Jadi perlu ketegasan mengenai pembiasaan berprilaku bersih/tidak mengotori.
6. Bagi terlaksananya kegiatan kebersihan, harus didukung oleh fasilitas kebersihan yang memadai:
a. Setiap ruangan telah dilengkapi sarana kebersihan, sebaiknya sesapu/broom plastik dan untuk ruangan-ruangan vital seperti laboratorium bahasa, komputer dan multimedia sebaiknya dilengkapi dengan vacuum cleaner, pel dorong, sabun/sampo pemberih kaca, perabot dan juga lantai.
b. Sarana kebersihan seperti sesapu, bak sampah, serok harus juga dijaga kebersihannya, dijaga jangan cepat rusak dan kotor, jadi juga harus dibersihkan. Sering didapati bak sampah dalam keadaan kotor, berdebu, belepotan dengan bekas becek/tanah dan bahkan juga keadaan fisiknya rusak/pecah.
c. Sarana kebersihan yang rusak diusahakan untuk diperbaiki. Sebaiknya ada petugas khusus yang memperbaikinya atau ada tenaga sukarelawan. Jika memang tidak bisa diperbaiki, maka harus diamankan jangan sampai justeru jadi sampah juga dan tentunya harus diganti dengan yang baru.
7. Pada masa oreantasi siswa baru (MOS), para siswa baru harus diberi pembelajaran kebersihan. Hal ini harus dilakukan segera, tentunya juga mereka harus bisa melihat contoh kondisi bersih sekolah dan juga melihat teladan baik dari warga sekolah sebelumnya dalam mengelola kebersihan.
8. Lebih jauh mengenai kebersihan ini, harus ada telaahan atau kajian khusus. Untuk itu sebagai bahan renungan dan referensi bagaimana usaha orang yang berhasil mewujudkan kebersihan, pada bagian ini disajikan artikel-artikel mengenai kebersihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar